Senin, 05 Desember 2016

INILAH CERITAKU PART 2




SISI POSITIF DARI SESUATU YANG NEGATIF
Pada saat dimana saya, teman-teman dan seluruh keluarga bersukacita akan datangnya suatu kesempatan yang langka yakni dapat melanjutkan pendidikan kenegeri seberang yang jauh dari bayagan sebelumnya (jawa). Tapi saiapa sangka kalau sebenarnya keberangkatan kami tersebut sedikit ternodai oleh ulah salah seorang yang diberi amanah untuk mengantarkan kami ketempat kami meniba ilmu di Sleman Yogyakarta.
Pada dasarnya keberangkatan saya dan 22 teman saya yang lainnya ditanggung sepenuhnya oleh pihak pesantren, tapi kenyataannya kami masih dimintai ongkos oleh orang yang dipercaya mengantarkan kami kejogja sebesar enam ratus ribu rupiah per-orang (enam ratus kali duapul tiga kan lumayan jumlahnya pada tahun 2003, hehehe).
Tapi itulah nikmatnya tertipu, walaupun terkadang kenikmatan tersebut setelah lama dari kejadiannya (kerna pas waktu tau ditipu saya juga kesel). Karena tertipulah petualanganku di tanah rantau menjadi-menjadi. Pada akhir tahun 2003 saya dan beberapa teman dipindahkan dari Ponpes pusat di Jogja menuju ponpes cabang di Serpong Tangerang Selatan. Kegiatan kita di ponpes cabang ini bermacam-macam tidak hanya belajar seperti yang telah kami jalani selama di Jogja. Diserpong selain kita melakukan rutinitas sebagai penghafal al-Qur’an para santri juga dibekali dengan ilmu bercocok tanam (berkebun) mulai dari singkong, cabe, sayur-sayuran seperti kangkung dan kacang panjang, ada lagi bagaimana cara mengembangkan budidaya tanaman anggrek, Indah deh pokoknya. (indahnya sekarang aja pas mengenag, kalau waktu ngejalaninnya, dongkol banget pesantren kok ngajarinnya bertani itulah yang ada dalam benakku waktu itu, maklum kerna waktu itu fikiranku gak secanggih sekarang...hehe).
Hasil cocok tanam yang kami lakukan selain untuk memenuhi kebutuhan para santri dipesantren, hasilnya juga kami jual ke pasar juga untuk memenuhi kebutuhan para santri dipesantren. Jadi intinya pesantrenku tersebut mengajarkan kehidupan yang mandiri, kuat secara ekonomi dan kokoh secara aqidah (analisis sekarang).
Sebagai gambaran kami para santri di Ponpes cabang serpong tidaklah banyak, hanya kisaran 20 sampai 30 orang saja, karena pada dasarnya santri-santri yang dikirim kesini lebih kepada pengabdian kepada masyarakat (dakwah) dimana para santri selalu mempunyai jadwal masing-masing di luar pesantren pada tiap harinya, baik untuk mengisi pengajian ibu-ibu maupun mengajri para anak-anak dan remaja dikawasan pesanteren tersebut. Jadilah kami para usatad-ustad cilik pada waktu itu (kerna kalau kemana-mana selalu dipanggil usatd oleh para warga). Semua kebutuhan santri dipondok ini ditanggung sepenuhnya oleh pihak pesantren (free).
Enam bulan setelah aku kembali mengambil suatu keputusan besar dalam pendidikanku. Pada kisaran bulan Mei 2004 lahan peantren kami diserpong terkena pengusuran perluasan kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) sehingga semua santri diharuskan untuk gulung tikar dan dipulangkan kembali ke pesantren pusat di jogaja. Tapi waktu itu aku memutuskan untuk tidak ikut dengan rombongan para santri ke joga, saya tetap tinggal di tangerang karena saya punya rencana untuk melanjutkan sekolah di MAN Serpong.
Berkat bantuan salah seorang kenalan saya (seorang bapak-bapak pegawai Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Puspitek Serpong) akhirnya saya bisa sekolah di MAN Serpong setelah tes dan dinyatakan lulus ujian masuk tentenya J. Selama sekolah di MAN Serpong saya sempat berpindah-pindah tempat tinggal, mulai dari sebuah yayasan di kawasan cisauk lalu pindah kepesantren Hidayatullah di Serpong, lalu sempat juga merasakan tinggal disekolah tempatku belajar sebagai penjaga sekolah (seru banget anak sekolah rumahnya disekolah sekali gus :D)

Berhubung udah larut ni malam...bersambung lagi ya.............

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ciputat, 5 Desember 2016
AGB

BACA JUGA

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan komentar disini

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda